• 18 September 2026

FK Unila dan Puskesmas Punggur Dorong Pemberdayaan Masyarakat Cegah Stunting Sejak Dini

 FK Unila dan Puskesmas Punggur Dorong Pemberdayaan Masyarakat Cegah Stunting Sejak Dini

LAMPUNG TENGAH — Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (FK Unila) bersama Tim Puskesmas Punggur Kabupaten Lampung Tengah, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat di Kecamatan Punggur dalam Upaya Menurunkan Insiden Stunting Berbasis Faktor Ibu dan Anak.” Kegiatan ini dilaksanakan di Posyandu Dewi Shinta, Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah, pada 10 Juli 2026 lalu.

‎Bentuk komitmen menempatkan keluarga dan masyarakat sebagai bagian penting dalam upaya pencegahan stunting sejak dini.

‎Kegiatan pengabdian diketuai oleh dr. Risti Graharti, S.Ked., M.Ling, dengan anggota tim dr. Intan Kusumaningtyas, Sp.OG, Subsp.FER, MPH; Femmy Andrifianie, S.Farm., M.Farm.; Linda Septiani, M.Sc.; Terza Aflika Happy, S.Keb., Bd., M.Ked.Trop; dan dr. Shinta Nareswari, Sp.A. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan Tim Puskesmas Punggur, Lampung Tengah sebagai mitra dalam pemberdayaan dan edukasi masyarakat dalam acara tersebut.

‎Dr. Risti Graharti, mengatakan Menguatkan Pemahaman Masyarakat tentang Stunting, di berikan edukasi mengenai stunting dengan pendekatan yang menekankan peran ibu, anak, keluarga, dan lingkungan. Materi edukasi yang digunakan dalam booklet kegiatan menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi anak yang memiliki panjang atau tinggi badan lebih rendah dari standar usianya akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak masa kehamilan hingga periode awal kehidupan.

‎Pesan utama yang disampaikan Dr. Risti Graharti, bahwa pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Booklet juga menekankan pentingnya pemenuhan gizi ibu dan anak, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, pemberian MPASI bergizi setelah usia enam bulan, imunisasi lengkap, pemantauan pertumbuhan, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

‎Pendekatan berupa pengabdian ini memperlihatkan bahwa pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi anak, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor sejak masa kehamilan. Dalam booklet, faktor ibu yang disoroti antara lain anemia, kurang gizi saat hamil, kehamilan pada usia terlalu muda, jarak kehamilan yang terlalu dekat, serta pemeriksaan antenatal yang tidak rutin, sedangkan pada anak antara lain tidak mendapatkan ASI eksklusif, MPASI yang tidak cukup, infeksi berulang, dan imunisasi yang tidak lengkap.Terang Risti Graharti.

‎Pemantauan Pertumbuhan Menjadi Bagian Penting dalam kegiatan adalah pentingnya pemantauan pertumbuhan anak secara rutin melalui Posyandu. Booklet mengarahkan orang tua untuk melakukan penimbangan dan pengukuran panjang atau tinggi badan anak secara berkala sehingga perubahan pertumbuhan dapat diketahui lebih awal.

‎Materi juga memperkenalkan klasifikasi status gizi berdasarkan PB/TB menurut umur menggunakan Z-score, termasuk kategori sangat pendek, pendek, normal, tinggi, dan sangat tinggi. Pemantauan tersebut diharapkan membantu keluarga mengenali lebih dini apabila anak menunjukkan tanda-tanda berisiko stunting sehingga dapat segera memperoleh tindak lanjut melalui Posyandu maupun fasilitas pelayanan kesehatan.” tutur Risti Graharti.

‎Risti Graharti. mengajak Keluarga Menjadi Bagian dari Pencegahan, dan Tim pengabdian FK Unila menekankan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Dalam booklet edukasi, keluarga dan masyarakat diajak untuk mendukung ibu dalam memberikan makanan bergizi dan pendampingan selama kehamilan, mengajak anggota keluarga aktif mengikuti Posyandu, mendukung pemberian ASI eksklusif dan MPASI, serta menjaga kebersihan lingkungan.

‎Dr. Shinta Nareswari, Sp.A. juga menjalasakan edukasi tersebut dirangkum dalam ajakan untuk bersama-sama mencegah stunting melalui pemeriksaan kehamilan secara rutin, konsumsi makanan bergizi, ASI eksklusif, MPASI bergizi, imunisasi lengkap, serta kunjungan ke Posyandu setiap bulan. Materi juga mengingatkan bahwa 1.000 HPK merupakan masa penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga deteksi dan intervensi perlu dilakukan sedini mungkin.”Ungkap Shinta Nareswari.

‎Sinergi Kegiatan di Posyandu Dewi Shinta menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antara institusi pendidikan kedokteran dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Kolaborasi FK Unila dengan Tim Puskesmas Punggur diharapkan dapat memperkuat peran Posyandu sebagai salah satu tempat pemantauan pertumbuhan sekaligus sarana edukasi bagi keluarga mengenai pencegahan stunting.

‎Melalui kegiatan pengabdian ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami apa itu stunting, tetapi juga mampu mengenali faktor risiko dan tanda-tanda yang perlu diperhatikan sejak masa kehamilan hingga periode awal kehidupan anak. Upaya pencegahan stunting pada akhirnya membutuhkan keterlibatan bersama antara ibu, anak, keluarga, kader Posyandu, tenaga kesehatan, dan masyarakat agar setiap anak memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.”Harap Risti Graharti.

‎Rilis Asep

Tinggalkan Komentar Anda Mengenai Berita Ini, Harap berkomentar dengan sopan dan bijak.

Baca Juga

Leave a Reply